Jumat, 21 Februari 2020

Sebuah Pelajaran

Iya, memang awalnya aku yg bersalah. Kemudian kamu meminta berpisah. Aku coba menahan tapi kamu tetap keras kepala dan aku pasrah.

Setelahnya kamu datang tanpa rasa bersalah tapi mimpiku sudah patah. Ditambah lagi kenyataan yang ku lihat semakin membakar amarah. Bagaimana bisa menyatukan pecahan kaca diatas puing puing kaca sebelumnya?

Iya, memang awalnya aku yang bersalah. Aku hanya ingin melihat bagaimana tanggung jawab seorang lelaki atas ucapan dan keputusan yang diambilnya atas dasar amarah. Bukan kah nilai seorang laki - laki dilihat berdasarkan kata - katanya? Sampai akhirnya aku melihat, bukannya aku yg memberi pelajaran. Tapi akulah yg mendapatkan pelajaran.

Untuk kamu masa lalu, terimakasih sudah memberi pelajaran atas semua ini. Sedikit pun aku tidak pernah merasa menyesal asal keputusan ini. Dan untuk kamu yang sekarang menjadi masa depanku, terimakasih telah datang di waktu yang tepat. Ternyata kamu lah segala jawaban dari doa yg ku istikharahkan selama ini. Bismillah, sekarang kita mulai menyusun kembali mimpi dan harapan yang pernah padam sebelumnya.

Selektif lah dalam memilih, karena memilih pasangan bukan hanya sekedar dari kata kata yg dia ucapkan tetapi bagaimana pembuktian dan tanggung jawab yang dia berikan. Bukan hanya berdasarkan nyaman, mapan atau tampan.