Jumat, 21 Februari 2014

Jomblo dan Spesiesnya


“Jomblo” setiap orang yang denger kata itu pasti ketawa, nyengir, nyinyir, dan mikirnya negatif. Kesepian lah, nggak laku lah, ngenes lah, apalagi kalau malam minggu, kerjaannya cuman mantengin TL doang sambil update status galau dan mohon – mohon supaya malem ini hujan deras disertai badai yang cetar mebahana bahkan bulu matanya Syahrini pun gak bakal mampu buat nahan. Kesian banget sih nasib lu mblo, lo nggak seneng apah liat para kaum muda mudi pacaran lalu lalang kesana kemari? Tenang mblo, nggak usah masang muka mupeng kayak gitu nanti lu juga bakal dapet, iya, nanti, nggak tau kapan.

Menurut survey ada beberapa jenis spesies jomblo di dunia. Tapi ini bukan versi dari majalah Times atau versi On The Spot ya, ini versi berdasarkan survey gue yang turun langsung ke lapangan. Lo semua harus berterimakasih sama gue, karena penelitian gue ini lain daripada yang lain. Dan lo bisa tau kalo elo termasuk spesies yang mana. Oke langsung aja kita mulai.

Yang pertama adalah spesies “Jomblo Ngarep” jomblo yang kayak gini kebanyakan ngarepin pacar orang. Spesies ini tergolong ngenes, cukup sabar dan agak jahat. Mereka cuma bisa nunggu dan ngarep, sambil berdoa semoga orang yang mereka taksir cepet – cepet putus dari pacarnya. Karena satu kata putus dari sepasang kekasih merupakan kebahagian yang tak terkira bagi mblo yang satu ini. Emang sih kedengerannya jahat banget, mblo yang satu ini seakan – akan bahagia di atas penderitaan orang lain. Tapi emang gitu kenyataannya, mereka mikir kalo si dia udah putusan dari pacarnya dia punya banyak kesempatan buat ngedeketin. Tapi menurut gue, hal ini malah mempersulit lo buat ngedapetin dia, coba lo mikir, dia punya pacar satu aja lo udah susah payah ngedapetinnya, apalagi kalau si dia juga jomblo, saingan lo bakalan bertambah karena lo gak pernah tau kalau di luar sana banyak juga yang ngarepin dia kayak elo. Kenapa gue bilang kayak gitu? Karena gue udah pernah ngalamin breeh. Waktu SMA gue pernah naksir sama kakak kelas gue, tapi dia udah pacaran sama adik kelas gue. Lo bayangin rasanya jadi gue yang tiap hari setiap pulang sekolah gue harus liat mereka berdua mesra di parkiran. Ngeness banget, rasanya tuh kayak nge gosokin cabe – cabean ke dalem mata, periiih banget, pedes tau nggak. Dan begitu tau mereka putus rasanya tuh bahagia banget. Gue mulai ngedeketin perlahan – lahan, tiap dia lewat di depan kelas gue, gue senyumin. Tiap dia olahraga selalu gue perhatiin. Dan akhirnya lo tau? Dia jadian sama yang lain lagi. Lo bayangin lagi deh gimana rasanya setelah nunggu bertahun tahun dia putus dari pacarnya dan sekarang gue harus nunggu lagi?. Ini hati bung, bukannya halte. Dan sejak saat itu gue berhenti jadi jomblo ngarep.

Yang kedua spesies “Jomblo Bertahan” mblo yang satu ini tergolong cuek, tegas, berpendirian kuat, dan nggak gampang tergoda. Banyak hal yang mengakibatkan seseorang yang menjadi jomblo bertahan. Misalnya mereka udah terlalu nyaman sama masa kejombloannya atau mungkin mereka mengalami trauma dalam berpacaran. Menurut mereka jadi jomblo itu nggak ribet. Lo nggak perlu mikirin orang lain, lo cuma perlu mikirin diri lo sendiri. Dia mah nggak ribet, kemana mana nggak usah minta izin dan lapor sama pacar. Kalau tiap hari harus minta izin dan lapor kayak gitu mending pacaran sama satpam aja kali, nggak ada bedanya. Kelebihan jomblo yang satu ini mereka punya banyak sahabat yang care sama dia, jadi dia nggak pernah ngerasa kesepian.

Yang ketiga adalah “Jomblo Mulia”. Sesuai namanya, ini adalah spesies terbaik diantara semua jomblo. Jomblo ini dekat dengan Tuhan, mereka memasrahkan semuanya pada Tuhan. Mereka percaya bahwa jodoh itu nggak bakalan ketuker kayak di sinetron. Tuhan udah nyiapin seseorang yang pantes buat lo. Mblo ini jauh dari kata galau. Mereka cuman mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang terbaik buat jodohnya kelak. Mereka nggak sirik liat orang pacaran, karena target mereka tuh bukan pacaran, tapi nikah. Belum tentu pacar lo sekarang adalah jodoh lo, jadi buat apa lo buang – buang waktu buat memperhatikan seseorang yang belum tentu jadi jodoh lo. Kalo suatu saat lo ngedapetin jomblo yang kayak gini, lo nggak bakalan rugi deh. Jomblo yang satu ini bener – bener masih dalam segel, nggak ada yang rusak dan lo beneran jadi orang yang pertama bagi dia. Dan sekarang gue juga lagi usaha buat jadi jomblo mulia. Gue berusaha menjaga semuanya hanya untuk jodoh gue kelak.

Itu tadi sekilas tentang survey gue tentang jomblo. Jadi jomblo itu nggak buruk kok. Justru jomblo itu jauh dari kata galau, lo liat aja tuh di twitter, paling banyak status orang pacaran aja yang muncul. Ada yang ngerasa pacarnya berubah lah, nggak peka lah, selingkuh lah, nggak ngasih kabar lah, pokoknya banyak deh. Lagian bahagianya pacaran tuh paling lama juga 2 bulan doang, sisanya mah udah biasa aja. Makanya banyak yang bilang kalau masa – masa PDKT itu lebih indah daripada pacaran, itu semua karena dia udah nggak penasaran lagi. Tapi gue saranin buat mblo – mblo yang ada disini buat sekali – sekali cek rontgen tulang deh, siapa tau tulang rusuk lo genap. Berarti lo emang udah ditakdirin buat jadi jomblo seumur hidup lo.

Selasa, 18 Februari 2014

Dua Bulan yang Menyebalkan


Aku membuka mata dan tersenyum, kulihat kalender hari ini tepat 2 bulan kami menjalin hubungan. Ku lihat layar hp ku, tak ada pesan yang masuk. “Mungkin dia belum bangun.” Pikirku. Ya, memang belakangan ini dia sedang sibuk mengurus pertandingannya. Jadi dia agak sibuk dan jarang memberikan perhatian. Aku berusaha mengerti dan memakluminya. Aku tidak mau membebaninya dengan kemanjaanku. Aku berusaha menjadi orang yang mandiri. Belakangan ini aku lebih sering menuggu, menunggu kabar darinya. Aku terlalu takut memulai, aku takut mengganggunya dan takut respon yang dia berikan malah membuatku semakin gelisah. Sebenarnya aku juga ingin melihat apakah dia mencariku saat aku tidak memberikan kabar. 

Tak lama ada sebuah pesan masuk, aku tersenyum. Ku buka ponselku, sebuah pesan yang berisi keluhan tentang kegiatannya. Aku mencoba memberikan kesabaran dan semangat serta candaan kecil di dalamnya agar dia kembali bangkit dan tersenyum. Ponselku kembali berdering, tanda sebuah pesan masuk. Senyum yang terpancar dari wajahku tiba – tiba hilang saat membaca pesan singktanya, respon yang jauh dari harapanku. Hanya sebuah laporan dia akan berangkat ke kampus. Lagi, respon yang membuatku agak kesal. Tapi aku berusaha sabar dan memakluminya. Sebenarnya belakangan ini ada yang mengganjal di dalam hatiku. Aku merasa ada sesuatu yang berubah dari sikapmu. Tak ada lagi candaan dan gombalan yang kau berikan padaku, yang ada hanya keluhan dan laporan yang memenuhi kotak masukku. Aku tidak ingin berfikiran negatif, mungkin ini karena kesibukkanmu yang padat.

Seharian kutunggu sebuah pesan yang bisa membangkitkan mood ku kembali. Namun hasilnya nihil, sikapnya tetap dingin. Rasa ini semakin menusukku. Twitterku mulai penuh dengan status galau, status yang aku harap dia bisa menjadi lebih peka saat membacanya. Karena aku takut jika mengatakannya secara langsung, aku takut jika terjadi kesalahpahaman dan perselisihan diantara kami. Aku hanya merindukan sikapmu yang dulu.

Malam pun tiba, tak ada tanda – tanda kau ingat dengan hari ini. Hari yang aku harapkan bisa kita rayakan berdua, hari dimana aku bisa mendapat kebahagian seperti awal kita bersatu. Air mataku tak tertahankan lagi, di dalam kamar kos ini emosiku meluap. Aku berusaha menahannya, apakah aku terlalu bodoh untuk menangisi tanggal di hari ini? anggap saja hari ini tidak ada peristiwa penting. Tapi air mataku semakin mengucur, sebegitu tidak penting kah hari ini untukmu? Atau kau lupa untuk mengecek kalendermu? Atau hari jadi kita terlalu biasa untukmu? Ribuan pertanyaan memenuhi otakku. Semua hanya bisa kusimpan dan semua terluapkan oleh air mata ini. Air mata yang mengantarkanku terlelap dalam tidur. Ku ambil ponselku yang sedari tadi kutunggu muncul pesan singkatmu. Akhirnya ku akhiri hari ini dengan mengirimkannya sebuah pesan singkat dan berharap mimpi malam ini berbanding terbalik dengan kenyataan hari ini, “selamat tidur sayang, tidur yang nyenyak. Happy anniversary sayang. Aku sayang kamu :’)”



24 Oktober 2013



Awalnya aku mengira hari ini adalah hari yang membosankan. Ya, hari dimana jadwal kuliah sedang padat-padatnya. Seperti biasa di jam pelajaran terakhir adalah puncak-puncaknya rasa kantuk, bosan, dan sebagainya, ditambah lagi cuaca diluar sedang hujan yang menambah rasa ngantuk semakin menjadi jadi. Kulihat wajah teman-temanku yang datar tanpa ekspresi, bukan karena sedang serius memperhatikan mata kuliah, tapi karena sudah tidak sanggup lagi menahan beratnya mata. Namun tidak bagiku, ku buka layar hp ku, kulihat ada pesan singkat dari seseorang yang sedang mendekatiku. Perkenalan kami memang singkat, kami baru bertemu beberapa minggu. Aku banyak mendengar cerita tentang dirinya dari sahabatku yang juga satu jurusan dengannya. Pertemuan pertama aku dengannya saat aku diajak sahabatku mengerjakan diskusi kelompok di kos-kosan temannya. Saat itulah aku mulai kenal dengannya. Lucu, itulah kesan pertamaku saat melihatnya, tidak ada perasaan yang begitu berarti. Kami mulai sering bertemu, dia sering datang ke kos-kosan kami. Awalnya aku kira dia menyukai sahabatku.

Kami semakin akrab, selalu ada tawa bahkan rayuan kecil diantara kami berdua. Ditambah lagi percakapan kami di twitter yang semakin menjadi-jadi. Perasaanku pun mulai berubah, perhatian-perhatian kecil yang dia selipkan diantara percakapan kami membuatku semakin bingung, apa mungkin dia menyimpan rasa untukku? Atau ini hanya trik untuk mendekati sahabatku? Aku tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan rasa ini.

Dugaanku ternyata salah, dia tidak menyukai sahabatku, tapi aku. Akupun bingung apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau secepat ini, aku takut kalau aku hanya dijadikan pelarian dan pelampiasan rasa sakit yang dilakukan oleh mantannya saja. Akupun meminta waktu untuk berfikir karena aku masih belum siap. Dan sebenarnya aku juga ingin melihat seberapa besar perjuangan dan ketulusannya.

Kembali ke hari yang membosankan tadi, aku terkejut ketika dia menyatakan perasaannya melalui pesan singkat ini. Perasaan ku menjadi tidak karuan, aku tidak bisa menahan senyum di wajahku. Aku sempat menceritakan dan meminta saran pada temanku di kelas. Dia bilang kalau aku memang merasa nyaman, terimalah. Akupun merasa memang waktunya sudah tepat, aku sudah melihat perjuangannya dan segala janji manis dari mulutnya. Akhirnya ku balas pesan singkatnya dengan senyum yang tidak bisa kutahan. Untungnya dosen ku di kelas tidak begitu memperhatikan gerak – gerikku. Hari yang biasanya membosankan bagiku berubah menjadi hari yang begitu berwarna.

Aku pulang dengan wajah yang ceria, ku ceritakan pada sahabat – sahabatku di kos. Merekapun ikut bahagia mendengarnya. Aku harap kebahagiaan ini akan selalu ada dan dia adalah orang yang tepat untukku, orang yang tulus mencintaiku dan tidak menyia-nyiakan perasaanku.

Antara Rasa dan Logika


Ingatanku kembali berkecamuk. Segala kenangan itu muncul lagi, aku benci untuk mengingatnya, aku benci dengan keadaan yang bersebrangan dengan kenyataan. Kenapa semua kenangan itu selalu muncul disaat aku sendiri dan termenung. Mereka selalu saja melintas di fikiranku dengan bebasnya. Haruskah setiap hari aku berperang melawan perasaan ini? Tentu saja aku lebih berpihak pada logika yang lebih masuk  akal daripada mengutamakan perasaan yang selalu membuat air mataku menetes. Logika ku selalu mendukungku, mereka mengatakan air mataku terlalu sia-sia untuk menangisi kepergian seseorang yang bahkan dia tidak pernah menyadari ketulusan hatimu. Tapi bagaimana dengan perasaan? Mereka bersekutu dengan semua kenangan-kenangan indah yang selalu menyerangku, bahkan membuat pertahananku hampir rubuh. Aku harus menyusun kembali tembok pertahananku dengan logika, dengan ribuan logika yang bisa membuatku bangkit kembali.
 Entah berapa lama tembok itu tersusun, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Aku tidak pernah tahu kalau tiba tiba perasaan itu kembali menyerangku, menusukku, dan membunuhku dalam kenangan, dan aku hanyut. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku mulai bersekutu dengan waktu, waktu yang akan mengantarkan ku pada kebahagiaan, pada kemenangan. Bahkan mungkin waktulah yang akan mendamaikan perang dingin ini. Ahhh… aku benci mengakui ini, kenapa aku begitu merindukan seseorang yang bahkan aku tidak pernah tau apakah dia juga merindukanku sedalam aku merindukannya. Untuk hari ini ku akui aku kalah, aku kalah melawan semua perasaan ini. Ya, harus ku akui bahwa hari ini aku begitu merindukanmu…

Story of Secret Admirer


Mungkin tidak ada yang spesial untuk hari ini bagi semua orang. Tapi tidak untukku, kamu, dan dia. Hari ini tepat bertambahnya usiamu yang ke 20 tahun. Ku buka sekilas akun twitterku, begitu banyak ucapan dan doa berlalu lalang di timelineku. Ku buka akunmu, kulihat ucapan pertama dari seseorang yang sangat special bagimu. Seseorang yang ada di avatar twittermu, seseorang yang duduk disampingmu. Aku tersenyum, membayangkan betapa beruntungya dia memilikimu. Memiliki seseorang yang bertahun tahun ku kagumi dan hanya bisa ku lihat melalui media social, semuanya maya. Aku mulai gelisah, aku ingin menunjukkan bahwa aku juga turut berbahagia atas bertambahnya usiamu. Tapi tiba-tiba aku mulai merenung. Aku ingat posisiku, siapa aku? Bahkan menegurmu saja menjadi hal yang sangat awam bagiku.

Selama ini aku hanya mengenalnya melalui media social. Tidak pernah ada perbincangan secara langsung antara kami berdua. Kami hanya tersenyum sapa satu sama lain tanpa memulai perbincangan. Semua itu karena aku merasa kau terlalu istimewa sedangkan aku terlalu biasa untukmu. Bahkan untuk sekedar menjadi temanmu. Tapi kemudian logikaku berkata, kalau tidak sekarang kapan lagi aku bisa menyapanya? Sudah lama aku tidak berhubungan dengannya. Akhirnya kuberanikan diriku, ku buka profilnya, ku ucapkan selamat ulang tahun untuknya dengan emoticon senyum di akhir kalimat. Anggaplah ini adalah ucapan dari seorang teman. Iya, teman yang hanya bisa mengagumi dari jauh sejak kecil, teman yang diam-diam menyimpan perasaan untukmu, seorang teman yang terlalu takut menunjukkan perasaannya.

“Your tweet was posted!” artinya ucapanku sudah terkirim, aku hanya tinggal menunggu balasan, balasan yang sebenarnya bisa membuat emosiku terguncang. 2 jam kemudian kulihat kembali layar hp ku, kulihat ada pemberitahuan mention yang masuk, aku tersenyum dan jantungku berdebar. “Amiin o:) makasih ya” emosiku tak tertahankan lagi, senyumku langsung merekah, hanya dengan balasan sesingkat itu saja aku bisa tersenyum sepanjang malam dan lupa dengan seseorang yang selalu menghantui pikiranku. Begitu ajaibnya dirimu sampai aku lupa rasa sakit hatiku. Namun hal itu tidak berlangsung lama, aku kembali teringat “siapa aku?”. Kulihat kembali avatar twittermu, kulihat kau duduk dengan seorang gadis berjilbab sambil meniup lilin kue ulang tahunmu. Raut wajahnya yang malu-malu sambil tersenyum menunjukkan betapa bahagianya gadis itu. Sekilas terbayang bagaimana jika aku yang berada di posisi gadis itu. Tapi sudahlah, itu semua hanya hayalanku yang tak berujung. Dan jika aku benar-benar berada di posisi gadis itu, apakah kebahagian itu akan sama?. Aku mencoba menerima kenyataan. Kalian memang pasangan yang serasi. Sekali lagi, selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan aku harap dia benar-benar orang yang tepat untukmu, orang yang bisa menjaga dan membahagiakanmu.