Selasa, 18 Februari 2014

24 Oktober 2013



Awalnya aku mengira hari ini adalah hari yang membosankan. Ya, hari dimana jadwal kuliah sedang padat-padatnya. Seperti biasa di jam pelajaran terakhir adalah puncak-puncaknya rasa kantuk, bosan, dan sebagainya, ditambah lagi cuaca diluar sedang hujan yang menambah rasa ngantuk semakin menjadi jadi. Kulihat wajah teman-temanku yang datar tanpa ekspresi, bukan karena sedang serius memperhatikan mata kuliah, tapi karena sudah tidak sanggup lagi menahan beratnya mata. Namun tidak bagiku, ku buka layar hp ku, kulihat ada pesan singkat dari seseorang yang sedang mendekatiku. Perkenalan kami memang singkat, kami baru bertemu beberapa minggu. Aku banyak mendengar cerita tentang dirinya dari sahabatku yang juga satu jurusan dengannya. Pertemuan pertama aku dengannya saat aku diajak sahabatku mengerjakan diskusi kelompok di kos-kosan temannya. Saat itulah aku mulai kenal dengannya. Lucu, itulah kesan pertamaku saat melihatnya, tidak ada perasaan yang begitu berarti. Kami mulai sering bertemu, dia sering datang ke kos-kosan kami. Awalnya aku kira dia menyukai sahabatku.

Kami semakin akrab, selalu ada tawa bahkan rayuan kecil diantara kami berdua. Ditambah lagi percakapan kami di twitter yang semakin menjadi-jadi. Perasaanku pun mulai berubah, perhatian-perhatian kecil yang dia selipkan diantara percakapan kami membuatku semakin bingung, apa mungkin dia menyimpan rasa untukku? Atau ini hanya trik untuk mendekati sahabatku? Aku tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan rasa ini.

Dugaanku ternyata salah, dia tidak menyukai sahabatku, tapi aku. Akupun bingung apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau secepat ini, aku takut kalau aku hanya dijadikan pelarian dan pelampiasan rasa sakit yang dilakukan oleh mantannya saja. Akupun meminta waktu untuk berfikir karena aku masih belum siap. Dan sebenarnya aku juga ingin melihat seberapa besar perjuangan dan ketulusannya.

Kembali ke hari yang membosankan tadi, aku terkejut ketika dia menyatakan perasaannya melalui pesan singkat ini. Perasaan ku menjadi tidak karuan, aku tidak bisa menahan senyum di wajahku. Aku sempat menceritakan dan meminta saran pada temanku di kelas. Dia bilang kalau aku memang merasa nyaman, terimalah. Akupun merasa memang waktunya sudah tepat, aku sudah melihat perjuangannya dan segala janji manis dari mulutnya. Akhirnya ku balas pesan singkatnya dengan senyum yang tidak bisa kutahan. Untungnya dosen ku di kelas tidak begitu memperhatikan gerak – gerikku. Hari yang biasanya membosankan bagiku berubah menjadi hari yang begitu berwarna.

Aku pulang dengan wajah yang ceria, ku ceritakan pada sahabat – sahabatku di kos. Merekapun ikut bahagia mendengarnya. Aku harap kebahagiaan ini akan selalu ada dan dia adalah orang yang tepat untukku, orang yang tulus mencintaiku dan tidak menyia-nyiakan perasaanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar