Awalnya aku
mengira hari ini adalah hari yang membosankan. Ya, hari dimana jadwal kuliah
sedang padat-padatnya. Seperti biasa di jam pelajaran terakhir adalah
puncak-puncaknya rasa kantuk, bosan, dan sebagainya, ditambah lagi cuaca diluar
sedang hujan yang menambah rasa ngantuk semakin menjadi jadi. Kulihat wajah
teman-temanku yang datar tanpa ekspresi, bukan karena sedang serius memperhatikan
mata kuliah, tapi karena sudah tidak sanggup lagi menahan beratnya mata. Namun
tidak bagiku, ku buka layar hp ku, kulihat ada pesan singkat dari seseorang
yang sedang mendekatiku. Perkenalan kami memang singkat, kami baru bertemu
beberapa minggu. Aku banyak mendengar cerita tentang dirinya dari sahabatku
yang juga satu jurusan dengannya. Pertemuan pertama aku dengannya saat aku
diajak sahabatku mengerjakan diskusi kelompok di kos-kosan temannya. Saat
itulah aku mulai kenal dengannya. Lucu, itulah kesan pertamaku saat melihatnya,
tidak ada perasaan yang begitu berarti. Kami mulai sering bertemu, dia sering
datang ke kos-kosan kami. Awalnya aku kira dia menyukai sahabatku.
Kami semakin
akrab, selalu ada tawa bahkan rayuan kecil diantara kami berdua. Ditambah lagi
percakapan kami di twitter yang semakin menjadi-jadi. Perasaanku pun mulai
berubah, perhatian-perhatian kecil yang dia selipkan diantara percakapan kami
membuatku semakin bingung, apa mungkin dia menyimpan rasa untukku? Atau ini
hanya trik untuk mendekati sahabatku? Aku tidak ingin terlalu cepat
menyimpulkan rasa ini.
Dugaanku
ternyata salah, dia tidak menyukai sahabatku, tapi aku. Akupun bingung apa yang
harus aku lakukan. Aku tidak mau
secepat ini, aku takut kalau aku hanya dijadikan pelarian dan pelampiasan rasa
sakit yang dilakukan oleh mantannya saja. Akupun meminta waktu untuk berfikir
karena aku masih belum siap. Dan sebenarnya aku juga ingin melihat seberapa
besar perjuangan dan ketulusannya.
Kembali ke hari
yang membosankan tadi, aku terkejut ketika dia menyatakan perasaannya melalui
pesan singkat ini. Perasaan ku menjadi tidak karuan, aku tidak bisa menahan
senyum di wajahku. Aku sempat menceritakan dan meminta saran pada temanku di
kelas. Dia bilang kalau aku memang merasa nyaman, terimalah. Akupun merasa
memang waktunya sudah tepat, aku sudah melihat perjuangannya dan segala janji
manis dari mulutnya. Akhirnya ku balas pesan singkatnya dengan senyum yang
tidak bisa kutahan. Untungnya dosen ku di kelas tidak begitu memperhatikan
gerak – gerikku. Hari yang biasanya membosankan bagiku berubah menjadi hari
yang begitu berwarna.
Aku pulang
dengan wajah yang ceria, ku ceritakan pada sahabat – sahabatku di kos. Merekapun
ikut bahagia mendengarnya. Aku harap kebahagiaan ini akan selalu ada dan dia
adalah orang yang tepat untukku, orang yang tulus mencintaiku dan tidak
menyia-nyiakan perasaanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar