Selasa, 18 Februari 2014

Antara Rasa dan Logika


Ingatanku kembali berkecamuk. Segala kenangan itu muncul lagi, aku benci untuk mengingatnya, aku benci dengan keadaan yang bersebrangan dengan kenyataan. Kenapa semua kenangan itu selalu muncul disaat aku sendiri dan termenung. Mereka selalu saja melintas di fikiranku dengan bebasnya. Haruskah setiap hari aku berperang melawan perasaan ini? Tentu saja aku lebih berpihak pada logika yang lebih masuk  akal daripada mengutamakan perasaan yang selalu membuat air mataku menetes. Logika ku selalu mendukungku, mereka mengatakan air mataku terlalu sia-sia untuk menangisi kepergian seseorang yang bahkan dia tidak pernah menyadari ketulusan hatimu. Tapi bagaimana dengan perasaan? Mereka bersekutu dengan semua kenangan-kenangan indah yang selalu menyerangku, bahkan membuat pertahananku hampir rubuh. Aku harus menyusun kembali tembok pertahananku dengan logika, dengan ribuan logika yang bisa membuatku bangkit kembali.
 Entah berapa lama tembok itu tersusun, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Aku tidak pernah tahu kalau tiba tiba perasaan itu kembali menyerangku, menusukku, dan membunuhku dalam kenangan, dan aku hanyut. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku mulai bersekutu dengan waktu, waktu yang akan mengantarkan ku pada kebahagiaan, pada kemenangan. Bahkan mungkin waktulah yang akan mendamaikan perang dingin ini. Ahhh… aku benci mengakui ini, kenapa aku begitu merindukan seseorang yang bahkan aku tidak pernah tau apakah dia juga merindukanku sedalam aku merindukannya. Untuk hari ini ku akui aku kalah, aku kalah melawan semua perasaan ini. Ya, harus ku akui bahwa hari ini aku begitu merindukanmu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar