Ingatanku
kembali berkecamuk. Segala kenangan itu muncul lagi, aku benci untuk
mengingatnya, aku benci dengan keadaan yang bersebrangan dengan kenyataan.
Kenapa semua kenangan itu selalu muncul disaat aku sendiri dan termenung.
Mereka selalu saja melintas di fikiranku dengan bebasnya. Haruskah setiap hari
aku berperang melawan perasaan ini? Tentu saja aku lebih berpihak pada logika
yang lebih masuk akal daripada
mengutamakan perasaan yang selalu membuat air mataku menetes. Logika ku selalu
mendukungku, mereka mengatakan air mataku terlalu sia-sia untuk menangisi
kepergian seseorang yang bahkan dia tidak pernah menyadari ketulusan hatimu.
Tapi bagaimana dengan perasaan? Mereka bersekutu dengan semua kenangan-kenangan
indah yang selalu menyerangku, bahkan membuat pertahananku hampir rubuh. Aku
harus menyusun kembali tembok pertahananku dengan logika, dengan ribuan logika
yang bisa membuatku bangkit kembali.
Entah berapa lama tembok itu tersusun, hanya
waktu yang bisa menjawabnya. Aku tidak pernah tahu kalau tiba tiba perasaan itu
kembali menyerangku, menusukku, dan membunuhku dalam kenangan, dan aku hanyut.
Tapi aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku mulai bersekutu
dengan waktu, waktu yang akan mengantarkan ku pada kebahagiaan, pada
kemenangan. Bahkan mungkin waktulah yang akan mendamaikan perang dingin ini.
Ahhh… aku benci mengakui ini, kenapa aku begitu merindukan seseorang yang
bahkan aku tidak pernah tau apakah dia juga merindukanku sedalam aku
merindukannya. Untuk hari ini ku akui aku kalah, aku kalah melawan semua
perasaan ini. Ya, harus ku akui bahwa hari ini aku begitu merindukanmu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar