Selasa, 18 Februari 2014

Dua Bulan yang Menyebalkan


Aku membuka mata dan tersenyum, kulihat kalender hari ini tepat 2 bulan kami menjalin hubungan. Ku lihat layar hp ku, tak ada pesan yang masuk. “Mungkin dia belum bangun.” Pikirku. Ya, memang belakangan ini dia sedang sibuk mengurus pertandingannya. Jadi dia agak sibuk dan jarang memberikan perhatian. Aku berusaha mengerti dan memakluminya. Aku tidak mau membebaninya dengan kemanjaanku. Aku berusaha menjadi orang yang mandiri. Belakangan ini aku lebih sering menuggu, menunggu kabar darinya. Aku terlalu takut memulai, aku takut mengganggunya dan takut respon yang dia berikan malah membuatku semakin gelisah. Sebenarnya aku juga ingin melihat apakah dia mencariku saat aku tidak memberikan kabar. 

Tak lama ada sebuah pesan masuk, aku tersenyum. Ku buka ponselku, sebuah pesan yang berisi keluhan tentang kegiatannya. Aku mencoba memberikan kesabaran dan semangat serta candaan kecil di dalamnya agar dia kembali bangkit dan tersenyum. Ponselku kembali berdering, tanda sebuah pesan masuk. Senyum yang terpancar dari wajahku tiba – tiba hilang saat membaca pesan singktanya, respon yang jauh dari harapanku. Hanya sebuah laporan dia akan berangkat ke kampus. Lagi, respon yang membuatku agak kesal. Tapi aku berusaha sabar dan memakluminya. Sebenarnya belakangan ini ada yang mengganjal di dalam hatiku. Aku merasa ada sesuatu yang berubah dari sikapmu. Tak ada lagi candaan dan gombalan yang kau berikan padaku, yang ada hanya keluhan dan laporan yang memenuhi kotak masukku. Aku tidak ingin berfikiran negatif, mungkin ini karena kesibukkanmu yang padat.

Seharian kutunggu sebuah pesan yang bisa membangkitkan mood ku kembali. Namun hasilnya nihil, sikapnya tetap dingin. Rasa ini semakin menusukku. Twitterku mulai penuh dengan status galau, status yang aku harap dia bisa menjadi lebih peka saat membacanya. Karena aku takut jika mengatakannya secara langsung, aku takut jika terjadi kesalahpahaman dan perselisihan diantara kami. Aku hanya merindukan sikapmu yang dulu.

Malam pun tiba, tak ada tanda – tanda kau ingat dengan hari ini. Hari yang aku harapkan bisa kita rayakan berdua, hari dimana aku bisa mendapat kebahagian seperti awal kita bersatu. Air mataku tak tertahankan lagi, di dalam kamar kos ini emosiku meluap. Aku berusaha menahannya, apakah aku terlalu bodoh untuk menangisi tanggal di hari ini? anggap saja hari ini tidak ada peristiwa penting. Tapi air mataku semakin mengucur, sebegitu tidak penting kah hari ini untukmu? Atau kau lupa untuk mengecek kalendermu? Atau hari jadi kita terlalu biasa untukmu? Ribuan pertanyaan memenuhi otakku. Semua hanya bisa kusimpan dan semua terluapkan oleh air mata ini. Air mata yang mengantarkanku terlelap dalam tidur. Ku ambil ponselku yang sedari tadi kutunggu muncul pesan singkatmu. Akhirnya ku akhiri hari ini dengan mengirimkannya sebuah pesan singkat dan berharap mimpi malam ini berbanding terbalik dengan kenyataan hari ini, “selamat tidur sayang, tidur yang nyenyak. Happy anniversary sayang. Aku sayang kamu :’)”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar