Tuhan
telah menjawab doaku. Dia datang lagi dalam kehidupanku, datang dengan sejuta
pertanyaan dalam benakku yang tak pernah kuhembuskan. Dia datang seolah tak pernah terjadi apa – apa.
Seolah tak pernah ada luka yang begitu dalam dan membekas. Entah apa maksud
dan tujuanmu, kedatanganmu kembali membuat ingatanku berkecamuk. Mengingat segala
tawa, canda, bahkan air mata yang sering aku teteskan hanya untukmu. Di satu
sisi aku bahagia karena hubungan ini kembali membaik, walau tak ada ikatan lagi
diantara kami berdua. Tapi disisi lain amarahku muncul, amarah yang selalu
mengingatkanku akan air mata yang begitu sering mengalir membasahi pipi ditiap
malamku. Aku mencoba bersikap dewasa, memang bagiku memaafkan adalah hal
mudah, tapi tidak untuk melupakan. Perlu waktu yang lama untuk mengobati luka
yang terlanjur kau diamkan selama ini. Entah berapa lama.
Aku
mencoba mengimbangimu dengan bersikap biasa seolah tak pernah terjadi apa –
apa. Layaknya seorang teman lama yang tidak pernah bertemu. Walaupun batinku
bergejolak dengan ribuan pertanyaan dan penjelasan yang ingin kudengar darimu.
Sayangnya aku bukanlah seseorang yang pandai membaca hati. Aku hanya bisa diam
sambil menunggu petunjuk. Petunjuk yang membawaku pada satu titik terang yang
membuat semuanya jelas. Memang semuanya telah berakhir, tapi ribuan
pertanyaanku masih belum berakhir. Apakah aku harus menunggu jawaban itu? Menunggu
dengan segala konsekuensi gila itu. Padahal aku sudah mulai bangkit dan menutup
lukaku. Haruskah aku jatuh lagi dan membiarkan luka ini kembali tebuka? Entahlah,
saat ini aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukku. Aku percaya rencana Tuhan indah pada waktunya, aku hanya bisa bersabar dan berpasrah kepada-Nya
sembari menyusun mimpi – mimpi dan cita – citaku yang tertunda. Meskipun terkadang
aku butuh seseorang yang selalu memberiku semangat disaat aku mulai lelah
dengan semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar